Padasan, Pakembinangun, Pakem, Sleman, Yogyakarta
0838-6918-5523
pantiasuhanalhakim@gmail.com

“Masih Mau Marah?” Part I

Panti Asuhan Al Hakim Sinar Melati Yogyakarta - Berani Hidup Berakhlak Mulia

“Masih Mau Marah?” Part I

Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

 Alhamdulillah, kita dipertemukan kembali di website Panti Asuhan Al Hakim ini. Maka dari itu, marilah kita syukuri karunia yang telah diberikan Allah subhanahu wa ta’ala  yang memberikan rezeki. Tak pernah lupa pula, shalawat dan salam senantiasa tercurahkan kepada nabiyullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang Insya Allah kita nantikan syafa’at nya di yaumil akhir.

Sahabat Al Hakim yang Insya Allah dirahmati oleh Allah subhanahu wa ta’ala di mana pun kalian berada,

Beberapa orang menduga bahwa dengan marah, dirinya tampak lebih berwibawa. Tentu saja, dugaan ini keliru, sebab pemarah tidak akan disukai siapa pun. Mereka umumnya akan menghindari orang yang pemarah karena takut disakiti. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Aisyah radhiallahu ‘anha,

“Manusia yang paling buruk kedudukannya di sisi Allah pada hari kiamat adalah manusia yang dijauhi karena perangai jahatnya.”

(Al-Bukhari)

Karena itu, barangsiapa yang merasa dirinya cepat marah, selayaknya menyadari bahwa kewibawaan seseorang tidak diraih dengan watak cepat marah. Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu melaporkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Orang kuat bukan diukur dengan bertarung. Orang kuat adalah yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.”

(Al-Bukhari dan Imam Muslim).

Dikutip dari Ensiklopedia Alquran bahwa pada suatu hari, seorang Muslim bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Apa yang dimaksud dengan bertarung wahai Rasulullah?” Beliau menjawab,

“Pertarungan sesungguhnya adalah jika seseorang marah lalu amarahnya semakin memuncak, wajahnya memerah, dan kulitnya merinding, dan pada saat itulah ia mampu menaklukkan amarahnya.”

(Imam Ahmad bin Hambal)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan nasehat kepada kita agar dapat mengendalikan kemarahan. Salman al-Farisi radhiallahu ‘anhu berkata, “Janganlah marah! Kalaupun Anda marah, kendalikan lisan dan tangan Anda.”

Berikut merupakan nasehat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang harus dilakukan dalam keadaan marah:

  • Dengan cara yang lebih baik.

    Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

Dan tidaklah sama antara kebaikan dan kejahatan. Hadapilah kejahatan itu dengan cara yang lebih baik. (sehingga) orang yang tadinya bermusuhan denganmu tiba-tiba menjadi kawan akrab. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar. Dan jika setan mengganggumu dengan suatu gangguan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar dan Maha Mengetahui.

(Fushilat: 34-36)

Menurut Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca surah Fushilat ayat ke 34 dan menafsirkannya dengan ungkapan, “Bersabar ketika marah dan memberi maaf ketika dijahati. Jika itu dilakukan Allah subhanahu wa ta’ala akan melindungi mereka dan musuh akan takluk pada mereka.”

Dalam riwayat Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Terdapat tiga sifat jika disandang seseorang dirinya akan dilindungi Allah subhanahu wa ta’ala, diliputi rahmat-Nya, dan dimasukkan dalam cinta-Nya, yaitu bersyukur ketika diberi rezeki, memberi ampun ketika mampu (untuk relawan), dan mampu mengendalikan diri saat marah.”

Anas bin Malik radhiallahu ‘anhuma meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Barangsiapa yang mampu mengendalikan amarahnya, Allah subhanahu wa ta’ala menghindarkan siksa darinya, dan barangsiapa yang mampu menjaga lidahnya, Allah subhanahu wa ta’ala akan menutup auratnya (Allah subhanahu wa ta’ala akan mengampuni dosanya dan melindungi orang tersebut dari setiap hal yang dapat mencemarkan nama baiknya).”

  • Berta’awudz.

Mu’adz bin Jabal radhiallahu ‘anhuma melaporkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat dua orang lelaki yang saling mencela. Salah seorang di antara mereka marah. Melihat itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Aku mengetahui sebuah kalimat yang jika dibaca akan menghilangkan amarah. Muadz bertanya, “Kalimat apakah itu wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Allahumma inni a’udzubika min asy-syaithan ar-rajim (Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari godaan setan yang terkutuk).”

Dalam kesempatan lain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ الْغَضَبَ مِنْ الشَّيْطَانِ وَإِنَّ الشَّيْطَانَ خُلِقَ مِنْ النَّارِ وَإِنَّمَا تُطْفَأُ النَّارُ بِالْمَاءِ فَإِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَتَوَضَّأْ

“Marah itu berasal dari setan. Sementara setan diciptakan dari api dan api dapat dipadamkan dengan air. Karena itu, jika di antara kalian ada yang marah segeralah berwudhu.”

(Imam Ahmad bin Hambal)

Abu Dzar al-Ghifari radhiallahu ‘anhu melaporkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ  وَهُوَ قَائِمٌ فَلْيَجْلِسْ، فَإِنْ ذَهَبَ عَنْهُ الْغَضَبُ، وَإِلاَّ فَلْيَضْطَجِعْ

“Apabila ada di antara kalian yang sedang marah dalam keadaan berdiri, maka duduklah. Apabila kemarahan tersebut belum juga reda, berbaringlah.”

(Imam Ahmad bin Hambal)

Menurut laporan sejumlah sahabat, seorang lelaki pernah mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Orang tersebut berkata, “Wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, berikanlah kepadaku sebuah nasihat singkat. Mudah-mudahan aku dapat menjaganya.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَا تَغْضَبْ

“Jangan marah!”

Tampaknya orang itu menginginkan tambahan nasihat. Hanya saja, setiap kali ia meminta tambahan nasihat, Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu menjawab,

لَا تَغْضَبْ

“Jangan marah!”

Tidak lebih dari itu.

Dalam riwayat Abu Darda radhiallahu ‘anhu disebutkan bahwa seseorang berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, tunjukkan padaku sebuah amal perbuatan yang dapat memasukkanku ke surga.” Dengan singkat beliau bersabda,

لاَ تَغْضَبْ وَلَكَ الْجَنَّةُ

“Jangan marah, engkau pasti masuk surga.”

Materi ini Insya Allah akan dilanjutkan dipertemuan berikutnya. Sekian.

Wassalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.

 

Leave a Reply

WhatsApp WhatsApp kami!